Narata.co – Keterlibatan perempuan terbukti menjadi kunci keberhasilan berbagai program konservasi alam dan ketahanan pangan. Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, Dr. Arzyana Sunkar, menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan penjaga utama keanekaragaman hayati melalui kearifan lokal.
Dalam IPB Podcast bertajuk “Perspektif Perempuan dalam Mewujudkan Konservasi yang Berkelanjutan”, Arzyana membeberkan fakta menarik dari risetnya di berbagai daerah. Di Klaten dan Bali Barat, misalnya, tingkat hidup anakan burung di penangkaran jauh lebih tinggi saat dirawat oleh perempuan.
”Hasil penelitian menunjukkan adanya kasih sayang, perhatian, dan waktu lebih yang diberikan perempuan, sehingga tingkat hidup anakan burung lebih tinggi,” ungkap Arzyana, sebagaimana dikutip dari YouTube IPB TV, Kamis (22/1/2026).
Baca juga: Komnas Perempuan Dorong Pemanfaatan Teknologi untuk Cegah Kekerasan terhadap Perempuan
Selain itu, ia menyoroti aksi heroik perempuan masyarakat adat Molo di NTT yang melawan ancaman industri dengan cara menenun. Aksi damai ini menjadi simbol bahwa kehidupan mereka bergantung sepenuhnya pada kelestarian alam.
”Perempuan tahu persis apa yang dibutuhkan alam dan bagaimana menjaganya, karena mereka yang bertanggung jawab memastikan ketersediaan pangan sehat bagi keluarga setiap hari,” jelasnya.
Meski memiliki peran strategis, Arzyana menyayangkan minimnya pengakuan dan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan formal. Padahal, berbagai riset global membuktikan bahwa kebijakan lingkungan yang melibatkan perspektif perempuan justru menghasilkan dampak pelestarian yang lebih baik.
”Tantangannya saat ini adalah budaya dan pengakuan. Padahal, ketika perempuan dilibatkan dalam pengambilan keputusan, hasil konservasinya lebih maksimal. Perlu dukungan kebijakan dan kelembagaan yang nyata,” pungkasnya.



