Narata.co – Konsumsi minuman manis saat berbuka puasa masih menjadi pilihan banyak masyarakat karena dianggap mampu memulihkan energi dengan cepat. Namun, kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jika dilakukan secara berlebihan tanpa pengendalian.
Profesor Ilmu Gizi Pangan di IPB University, Budi Setiawan, mengatakan kecenderungan memilih makanan dan minuman manis saat berbuka berkaitan dengan turunnya kadar gula darah setelah berpuasa seharian.
“Selain sebagai sumber energi, kecenderungan mengonsumsi makanan atau minuman manis saat berbuka bertujuan untuk segera mengembalikan kadar gula darah yang menurun selama berpuasa,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Budi menjelaskan mengonsumsi gula juga dapat memicu rasa puas dan bahagia karena meningkatkan produksi hormon serotonin. Meski demikian, gula tetap harus dibatasi karena berada di puncak piramida gizi seimbang.
“Konsumsi apa pun kalau berlebihan tentu saja tidak baik, makanya pedomannya adalah gizi seimbang,” jelasnya.
Baca juga: Tradisi Pawai Obor Sambut Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah
Menurut Budi, batas konsumsi gula harian mengacu pada pedoman gula, garam, dan lemak, yakni maksimal 50 gram atau setara empat sendok makan. Konsumsi minuman manis berlebihan saat berbuka maupun sahur dinilai tidak mendukung pemenuhan gizi seimbang karena dapat membuat perut cepat kenyang.
“Asupan gula berlebih berisiko menimbulkan karies gigi serta meningkatkan berat badan. Pada penderita diabetes, kelebihan gula juga dapat meningkatkan kadar trigliserida yang berdampak pada kesehatan jantung. Bisa juga terjadi gangguan pencernaan akibat meningkatnya asam lambung,” kata Budi.
Sebagai alternatif, Budi menyarankan memilih minuman yang lebih sehat, seperti air kelapa muda serta jus buah atau sayur tanpa tambahan gula berlebihan. Buah manis alami, seperti kurma, juga dianjurkan dikonsumsi secukupnya.
“Tidak boleh berlebihan, cukup satu sampai tiga butir saja,” pungkasnya.



