Narata.co – Deforestasi tidak hanya memicu krisis lingkungan, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia. Hilangnya tutupan hutan secara permanen akibat aktivitas manusia terbukti meningkatkan populasi nyamuk dan risiko penularan penyakit berbahaya, terutama di wilayah bekas hutan yang berubah menjadi kawasan permukiman.
Ahli Entomologi IPB University, Prof Upik Kesumawati Hadi, menjelaskan deforestasi merupakan proses hilangnya tutupan hutan secara permanen akibat campur tangan manusia. Aktivitas tersebut mengubah kawasan berhutan menjadi lahan nonhutan secara tidak dapat dipulihkan (irreversibel) dan melenyapkan fungsi ekologis hutan.
“Hutan memiliki peran utama sebagai habitat flora dan fauna, penyeimbang siklus air, serta pengatur iklim. Ketika hutan hilang, seluruh fungsi tersebut ikut lenyap,” ujar Prof Upik, Jumat (13/2/2026).
Ia menyebutkan deforestasi umumnya terjadi di kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan aktivitas manusia, seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, dan permukiman. Konversi kawasan tersebut menyebabkan hilangnya vegetasi dan ekosistem hutan secara permanen.
“Dampak paling serius dari deforestasi adalah hilangnya habitat alami flora dan fauna, terutama spesies endemik. Jika terus berlanjut, kondisi ini dapat menyebabkan kepunahan berbagai jenis makhluk hidup,” jelas Prof Upik.
Selain berdampak pada keanekaragaman hayati, hilangnya hutan juga memengaruhi perilaku nyamuk. Prof Upik mengatakan ketika habitat alami nyamuk dan satwa liar rusak, nyamuk kehilangan inang alaminya dan beralih menggigit manusia.
“Manusia yang bermukim di kawasan bekas hutan menjadi target paling mudah sebagai sumber darah utama,” katanya.
Baca juga: Praktik Pembakaran Limbah Plastik di Industri Makanan Dinilai Berisiko bagi Kesehatan
Sejumlah penelitian, lanjutnya, menunjukkan wilayah dengan tingkat deforestasi tinggi memiliki populasi nyamuk lebih melimpah dan risiko penyakit lebih besar. Berkurangnya keanekaragaman hayati menghilangkan penyangga alami penularan penyakit sehingga manusia semakin sering menjadi sumber darah utama nyamuk yang bersifat oportunis.
Nyamuk diketahui sebagai vektor berbagai penyakit berbahaya seperti demam berdarah dengue (DBD), Zika, chikungunya, malaria zoonotik, dan demam kuning.
“Kondisi ini menjadi peringatan bahwa kerusakan hutan bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan manusia,” ungkap Prof Upik.
Bukan hanya itu, deforestasi juga mengganggu siklus air akibat hilangnya proses penguapan dan penyerapan air tanah, sehingga meningkatkan risiko banjir, longsor, dan kekeringan. Selain itu, hilangnya fungsi hutan sebagai penyerap karbon turut meningkatkan emisi gas rumah kaca dan memperparah perubahan iklim.
Sebagai langkah pencegahan, Prof Upik mendorong reboisasi dan penghijauan, pengawasan hutan melalui aparat dan teknologi satelit, serta penegakan hukum yang tegas disertai edukasi masyarakat.
“Pentingnya peran aktif masyarakat dalam mendukung pelestarian hutan melalui kampanye lingkungan dan pemanfaatan sumber daya secara bijak,” pungkasnya.



