• Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
Sabtu, Februari 14, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Narata
  • Home
  • News
  • Indepth
  • Komunitas
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Advertorial
  • Home
  • News
  • Indepth
  • Komunitas
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Advertorial
No Result
View All Result
Narata
No Result
View All Result

Alih Fungsi Hutan Perbesar Risiko Penularan Penyakit Vektor

by Redaksi
Februari 13, 2026
in Lingkungan
Keterangan foto: Ilustrasi nyamuk. (Sumber: National Institute of Allergy and Infectious Diseases via Unsplash)

Keterangan foto: Ilustrasi nyamuk. (Sumber: National Institute of Allergy and Infectious Diseases via Unsplash)

Narata.co – Deforestasi tidak hanya memicu krisis lingkungan, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia. Hilangnya tutupan hutan secara permanen akibat aktivitas manusia terbukti meningkatkan populasi nyamuk dan risiko penularan penyakit berbahaya, terutama di wilayah bekas hutan yang berubah menjadi kawasan permukiman.

Ahli Entomologi IPB University, Prof Upik Kesumawati Hadi, menjelaskan deforestasi merupakan proses hilangnya tutupan hutan secara permanen akibat campur tangan manusia. Aktivitas tersebut mengubah kawasan berhutan menjadi lahan nonhutan secara tidak dapat dipulihkan (irreversibel) dan melenyapkan fungsi ekologis hutan.

“Hutan memiliki peran utama sebagai habitat flora dan fauna, penyeimbang siklus air, serta pengatur iklim. Ketika hutan hilang, seluruh fungsi tersebut ikut lenyap,” ujar Prof Upik, Jumat (13/2/2026).

Ia menyebutkan deforestasi umumnya terjadi di kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan aktivitas manusia, seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, dan permukiman. Konversi kawasan tersebut menyebabkan hilangnya vegetasi dan ekosistem hutan secara permanen.

“Dampak paling serius dari deforestasi adalah hilangnya habitat alami flora dan fauna, terutama spesies endemik. Jika terus berlanjut, kondisi ini dapat menyebabkan kepunahan berbagai jenis makhluk hidup,” jelas Prof Upik.

Selain berdampak pada keanekaragaman hayati, hilangnya hutan juga memengaruhi perilaku nyamuk. Prof Upik mengatakan ketika habitat alami nyamuk dan satwa liar rusak, nyamuk kehilangan inang alaminya dan beralih menggigit manusia.

“Manusia yang bermukim di kawasan bekas hutan menjadi target paling mudah sebagai sumber darah utama,” katanya.

Baca juga: Praktik Pembakaran Limbah Plastik di Industri Makanan Dinilai Berisiko bagi Kesehatan

Sejumlah penelitian, lanjutnya, menunjukkan wilayah dengan tingkat deforestasi tinggi memiliki populasi nyamuk lebih melimpah dan risiko penyakit lebih besar. Berkurangnya keanekaragaman hayati menghilangkan penyangga alami penularan penyakit sehingga manusia semakin sering menjadi sumber darah utama nyamuk yang bersifat oportunis.

Nyamuk diketahui sebagai vektor berbagai penyakit berbahaya seperti demam berdarah dengue (DBD), Zika, chikungunya, malaria zoonotik, dan demam kuning.

“Kondisi ini menjadi peringatan bahwa kerusakan hutan bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan manusia,” ungkap Prof Upik.

Bukan hanya itu, deforestasi juga mengganggu siklus air akibat hilangnya proses penguapan dan penyerapan air tanah, sehingga meningkatkan risiko banjir, longsor, dan kekeringan. Selain itu, hilangnya fungsi hutan sebagai penyerap karbon turut meningkatkan emisi gas rumah kaca dan memperparah perubahan iklim.

Sebagai langkah pencegahan, Prof Upik mendorong reboisasi dan penghijauan, pengawasan hutan melalui aparat dan teknologi satelit, serta penegakan hukum yang tegas disertai edukasi masyarakat.

“Pentingnya peran aktif masyarakat dalam mendukung pelestarian hutan melalui kampanye lingkungan dan pemanfaatan sumber daya secara bijak,” pungkasnya.

Tags: DeforestasiHutanIPB-UniversityKesehatanLingkunganNyamuk
Redaksi

Redaksi

Next Post
Keterangan foto: Ilustrasi munggahan jelang Ramadan. (Sumber: Unsplash)

Munggahan Bukan Sekadar Tradisi, Ini Makna Sosiologisnya

Recommended

Maskapai Lion Air. (Foto: Fasyah Halim via Unsplash)

Penumpang Sebut Ada Bom, Lion Air JT-308 Jakarta-Kualanamu Kembali ke Apron 

6 bulan ago
img 1831

Kebaya Bukan Sesuatu yang Kaku atau Eksklusif, tapi Wadah Ekspresi Diri

7 bulan ago

Popular News

    • Redaksi
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Tentang Kami
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Kontak Kami
    • Kebijakan Privasi

    Copyright © 2025. Narata.co. All rights reserved.

    No Result
    View All Result
    • Home
    • News
    • Komunitas
    • Lingkungan
    • Indepth
    • Olahraga
    • Advertorial

    Copyright © 2025. Narata.co. All rights reserved.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    Are you sure want to unlock this post?
    Unlock left : 0
    Are you sure want to cancel subscription?