Narata.co, Medan – Kuliner bagian yang tak dapat dipisahkan pada bulan Ramadan. Tiap menjelang buka puasa, masyarakat umumnya mencari beragam menu makanan yang bisa dinikmati bersama keluarga.
Salah satu kuliner yang menjadi primadona saat Ramadan yakni, pucuk rotan atau dikenal dengan pakat. Makanan khas Mandailing ini jadi kuliner yang banyak dicari lantaran diyakini dapat menambah nafsu makan.
Saat bulan Ramadan, pedagang pakat dapat ditemui di pinggir jalan Kota Medan. Salah satunya di Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan, Sumatra Utara. Sejak pukul 15.00 WIB, pedagang pakat mulai menjajakan dagangannya.
Kepulan asap bakaran pakat menyeruak hingga ke jalan. Panasnya bara api mengucur keringat pedagang saat proses pembakaran.
Untuk pengolahan pakat terlihat tidak begitu rumit. Pedagang lebih dulu menyiapkan pucuk rotan pakat yang sebelumnya sudah dipotong-potong berukuran satu meter, kemudian membakarnya hingga menghitam. Bagian dalam pakat seperti umbi-umbian inilah yang diambil untuk nantinya dikonsumsi.
Sekilas pakat tampak menyerupai batang bambu kecil, namun pakat adalah tumbuhan pucuk rotan dengan tekstur yang lembut.
Putra Haris Nasution, pedagang menjelaskan, pakat merupakan makanan tradisional khas Mandailing yang biasanya dijadikan lalapan. Rasanya yang pahit dapat meningkatkan selera makan.
Ia menyebut, dulunya pakat hanya dibeli oleh orang-orang Mandailing. Namun, berjalannya waktu, pakat mulai dikenal hingga jadi salah satu kuliner yang banyak diminati masyarakat umum, khusus di Kota Medan.
“Pakat ini sebagai takjil. Kalau peminatnya sudah luas, bukan hanya orang Mandailing saja, tapi semua,” kata Putra Haris, Kamis (05/03/2026).
Bahan baku pakat diambil dari wilayah Pekanbaru, Gunung Tua, dan Mandailing Natal. Nantinya, pakat-pakat ini dikirim menggunakan bus menuju Kota Medan.
Harga pakat dijual seharga Rp5 ribu per batang. Namun untuk pembelian sebanyak 5 batang pakat, pedagang hanya membanderolnya seharga Rp20 ribu saja.
Haris Nasution mengaku sudah puluhan tahun berjualan. Dibantu istri dan anaknya, ia tak hanya menjajakan pakat, namun juga menjajakan ikan asap atau ikan sale dengan beragam jenis seperti ikan baung, gabus, dan lele.
“Jualannya tiap ramadan aja. Alhamdulillah tahun ini lumayan,” ucapnya.
Untuk menambah cita rasa saat dimakan, pakat dapat dipadukan dengan nasi beserta sambal olahan khas Mandailing. Tak lupa pula, ikan asap dan gulai santan jadi menu tambahan yang dapat menggugah selera.
Bahrum Saleh, seorang pembeli mengatakan, pakat sebagai menu pelengkap yang tak terpisahkan saat buka puasa. Menurutnya, selain menambah nafsu makan, pakat juga makanan yang baik untuk kesehatan.
“Sudah jadi langganan tiap tahunnya, wajib beli di sini. Kalau pakat enaklah, pahit sepat rasanya. Katanya ya bisa buat nangkal penyakit juga,” ungkapnya.


