Narata.co – Praktik pemanfaatan limbah plastik sebagai bahan bakar dalam proses penggorengan di sejumlah industri makanan dinilai berisiko bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Pembakaran plastik dapat menghasilkan senyawa berbahaya yang mencemari produk pangan serta udara di sekitar sentra industri.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Benedikta Diah Saraswati, mengatakan emisi gas dari pembakaran plastik berpotensi mengontaminasi produk selama proses produksi.
“Plastik yang dibakar secara tidak sempurna akan melepaskan senyawa beracun yang sangat stabil, terutama dioksin dan furan. Karena sifatnya lipofilik, senyawa ini mudah berikatan dengan lemak dan protein sehingga berpotensi terakumulasi dalam produk pangan,” kata Diah dalam siaran persnya, Jumat (6/2/2026).
Menurut Diah, dioksin dan furan termasuk kelompok polutan organik persisten yang dapat bertahan lama di dalam tubuh manusia. Paparan jangka panjang bersifat genotoksik karena dapat merusak DNA.
“Akumulasi dalam jangka waktu lama dapat memicu peradangan kronis, gangguan fungsi hati, gangguan sistem hormon, serta meningkatkan risiko kanker,” ujarnya.
Diah menjelaskan, selain melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi, pembakaran plastik juga meningkatkan paparan mikroplastik di udara. Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat terhirup atau mengendap pada bahan pangan, lalu masuk ke saluran pernapasan dan pencernaan.
“Hati atau hepar menjadi organ yang paling rentan terdampak karena berperan dalam proses detoksifikasi. Namun, struktur kimia dioksin dan furan yang sangat stabil membuat zat ini sulit diurai sehingga memicu peradangan,” jelasnya.
Baca juga: Pakar Biomedis Ingatkan Bahaya Sodet Plastik terhadap Kesehatan
Ia menambahkan, senyawa hasil pembakaran plastik juga termasuk endocrine disrupting chemicals (EDC) yang dapat mengganggu sistem hormon.
“Zat ini mampu meniru atau menghambat kerja hormon alami tubuh, sehingga berisiko mengacaukan sistem reproduksi dan metabolisme. Bahkan, paparan dapat menembus sawar plasenta dan mengganggu perkembangan janin,” ucap Diah.
Risiko kesehatan, lanjut Diah, tidak hanya dialami konsumen, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi industri. Asap pembakaran plastik mengandung partikel halus PM2,5 dan mikroplastik yang dapat terhirup hingga ke paru-paru.
“Dalam jangka pendek dapat menimbulkan gangguan pernapasan seperti batuk dan infeksi saluran pernapasan akut. Jika paparan berlangsung lama, berpotensi berkembang menjadi penyakit paru kronis seperti asma dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronik),” ujarnya.
Diah menegaskan, langkah utama untuk menekan risiko kesehatan adalah menghentikan penggunaan limbah plastik sebagai bahan bakar.
“Selama sumber polusi masih ada, risiko kesehatan akan terus berulang,” tegasnya.
Sebagai upaya perlindungan, ia menyarankan masyarakat menggunakan masker respirator saat terpapar asap, menjaga ventilasi rumah, menghindari penggunaan plastik untuk makanan panas, serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur yang kaya antioksidan.
“Asupan antioksidan dapat membantu tubuh melawan kerusakan sel akibat radikal bebas dari kontaminan plastik, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko,” pungkas Diah.



