Rabu, Agustus 5, 2026
No Result
View All Result
Narata
  • Home
  • News
  • Yang Luput
  • Komunitas
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Advertorial
  • Home
  • News
  • Yang Luput
  • Komunitas
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Advertorial
No Result
View All Result
Narata
No Result
View All Result

Perdagangan Satwa Liar Ilegal Dinilai Tingkatkan Ancaman Penyakit Menular

by Redaksi
April 16, 2026
in Lingkungan
Seekor tenggiling yang diselamatkan dari perdagangan satwa dilindungi di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (Foto: BKSDA Jawa Tengah)

Seekor tenggiling yang diselamatkan dari perdagangan satwa dilindungi di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (Foto: BKSDA Jawa Tengah)

Narata.co – Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menyebut perdagangan ilegal satwa liar berpotensi meningkatkan risiko penularan zoonosis serta memicu munculnya wabah penyakit baru.

“Perdagangan satwa liar meningkatkan risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia,” ujar Ronny.

Ia menjelaskan, satwa liar yang diperdagangkan cenderung mengalami stres sehingga sistem imunnya menurun dan memicu pelepasan patogen.

“Satwa yang stres lebih mudah melepaskan virus atau bakteri,” kata Ronny, Kamis (16/4/2026).

Selain itu, kondisi pengangkutan yang tidak layak, seperti penempatan dalam kandang sempit dan bercampur dengan spesies lain, turut memperbesar risiko penularan.

“Kontak antarspesies selama distribusi meningkatkan peluang pertukaran patogen,” ucapnya.

Ronny mengutip hasil penelitian Universitas Fribourg yang menunjukkan mamalia yang diperdagangkan memiliki risiko 1,5 kali lebih tinggi menjadi inang zoonosis dibandingkan yang tidak diperdagangkan.

“Patogen yang ditemukan meliputi virus corona, influenza, rabies, hingga parasit zoonotik,” katanya.

Ronny menambahkan, penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan darah, daging, atau cairan tubuh satwa liar, baik saat penjualan, konsumsi, maupun ketika dijadikan hewan peliharaan.

“Risiko tetap ada meskipun satwa dipelihara di rumah,” ujarnya.

Ronny mencontohkan kasus perdagangan ilegal burung kuau raja, owa ungko, dan kucing emas di Sumatra Barat pada 2022 yang menunjukkan potensi penyebaran patogen ke manusia. Di tingkat global, sejumlah wabah seperti SARS, MERS, dan COVID-19 juga dikaitkan dengan interaksi manusia dan satwa liar.

“Perdagangan ilegal berpotensi memicu pandemi baru dengan dampak besar,” tegasnya.

Selain berdampak pada kesehatan, praktik ini juga mengancam keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem.

“Biodiversitas merupakan dasar kesehatan manusia dan harus dilindungi,” kata Ronny.

Pakar genetika itu menilai kebijakan konservasi yang kuat diperlukan untuk mencegah degradasi ekosistem yang dapat memicu krisis kesehatan dan pangan.

Tags: IndonesiaIPB-UniversityLingkunganpenyakitPerdagangan-satwa-ilegalzoonosis
Redaksi

Redaksi

Next Post
Keterangan Foto: Felipe Cadenazzi melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Sriwijaya FC di Stadion Utama Sumut. Minggu 19 April 2026. (Sumber: MO PSMS Medan)

Gol Tunggal Cadenazzi Bawa PSMS Menang Lawan Sriwijaya FC

Recommended

img 20251026 wa0027

Penonton PSMS Terus Meningkat, Gubernur Sumut Dorong Tumbuhnya Industri Sepak Bola

9 bulan ago
img 1668

Asesor UNESCO: Masyarakat Harus Tahu Betapa Spesialnya Danau Toba

1 tahun ago

Popular News

    • Home
    • Kebijakan Privasi
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Kontak Kami
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami

    Copyright © 2025. Narata.co. All rights reserved.

    No Result
    View All Result
    • Home
    • News
    • Komunitas
    • Lingkungan
    • Yang Luput
    • Olahraga
    • Advertorial

    Copyright © 2025. Narata.co. All rights reserved.

    Are you sure want to unlock this post?
    Unlock left : 0
    Are you sure want to cancel subscription?