Narata.co — Fenomena awan berwarna-warni atau iridescent clouds ramai diperbincangkan di media sosial setelah banyak warganet mengunggah foto dan video langit dengan gradasi warna menyerupai pelangi.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan peristiwa optika atmosfer yang terjadi secara alami.
“Iridescent clouds terjadi ketika sinar matahari mengalami difraksi oleh partikel tetesan air atau kristal es berukuran sangat kecil di dalam awan,” ujar Sonni dalam siaran persnya, Senin (4/5/2026).
Sonni mengatakan proses difraksi membuat cahaya matahari yang memiliki berbagai panjang gelombang terurai menjadi warna-warna seperti merah, hijau, biru, dan ungu yang terlihat di pinggiran awan.
Fenomena ini umumnya muncul pada awan tipis di ketinggian, seperti altokumulus dan sirrokumulus, yang memungkinkan cahaya matahari menembus dan berinteraksi dengan partikel di dalamnya.
“Awan harus tipis. Kalau tebal, cahaya tidak bisa menembus sehingga tidak muncul efek warna,” kata Sonni.
Baca juga: Minuman Kolagen Berbahan Tulang Ikan Dikembangkan Peneliti IPB
Sonni juga menegaskan fenomena awan pelangi berbeda dengan pelangi pada umumnya. Jika pelangi terbentuk akibat pembiasan cahaya, maka awan pelangi terjadi karena difraksi cahaya.
“Spektrum warnanya memang mirip pelangi, tetapi prosesnya berbeda. Pada iridescent cloud, cahaya mengalami difraksi, bukan pembiasan,” ungkapnya.
Menurut Sonni warna pada awan pelangi juga tidak membentuk pola busur seperti pelangi, melainkan muncul dalam bentuk tambalan warna yang tidak beraturan di tepi awan.
Kemudian, tidak semua awan dapat menghasilkan fenomena tersebut. Hanya awan dengan ukuran partikel tertentu yang sebanding dengan panjang gelombang cahaya matahari yang dapat memunculkan efek warna.
“Tidak semua partikel awan bisa mendifraksi cahaya. Hanya partikel dengan ukuran tertentu yang dapat menghasilkan efek warna,” pungkas Sonni.
Fenomena ini dapat terjadi di berbagai wilayah selama kondisi atmosfer mendukung, sehingga masyarakat dapat melihatnya sebagai bagian dari proses alam yang normal.



