Narata.co — Perubahan iklim dan alih fungsi lahan berpotensi meningkatkan frekuensi pertemuan antara ular dan manusia di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi tersebut dipicu oleh perubahan suhu, pola curah hujan, serta menyusutnya habitat alami yang memaksa ular mencari sumber makanan dan tempat berlindung di dekat permukiman.
Dosen Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Mirza Dikari Kusrini, mengatakan perubahan iklim dapat memengaruhi perilaku, distribusi, dan pola pergerakan ular.
“Sebagai hewan ektotermik, ular sangat bergantung pada kondisi lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya. Peningkatan suhu rata-rata dapat mengubah pola aktivitas harian dan musiman ular, termasuk waktu berburu, reproduksi, dan penggunaan habitat,” katanya, Jumat (5/6/2026).
Menurut Mirza, perubahan pola curah hujan, banjir, kekeringan berkepanjangan, hingga cuaca ekstrem dapat menurunkan kualitas habitat alami. Hal itu membuat ular terdorong mencari lokasi alternatif yang masih menyediakan perlindungan dan sumber pakan.
“Permukiman manusia sering menjadi tujuan karena menyediakan berbagai sumber makanan seperti tikus dan amfibi, serta tempat berlindung seperti saluran drainase hingga kolam,” ujarnya.
Mirza menjelaskan bahwa pergeseran habitat ular berpotensi terjadi di Indonesia, terutama pada spesies yang selama ini hidup di kawasan pertanian dan pinggiran permukiman.
“Ular yang sering ditemukan di lanskap pertanian dan pinggiran permukiman seperti ular kobra, ular welang, dan weling yang makanannya rodensia berpotensi bergeser ke permukiman dan meningkatkan potensi gangguan terhadap manusia,” jelasnya.
Baca juga: Alih Fungsi Hutan Perbesar Risiko Penularan Penyakit Vektor
Kendati demikian, Mirza menilai alih fungsi lahan dan fragmentasi habitat sering kali menjadi faktor yang lebih langsung dibandingkan perubahan iklim dalam mendorong interaksi antara manusia dengan ular.
“Hilangnya habitat alami membuat ular harus mencari tempat berlindung, pasangan, maupun sumber makanan di area yang semakin dekat dengan aktivitas manusia,” ungkap Mirza.
Untuk mengurangi risiko konflik dan gigitan ular, Mirza mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, menutup celah pada bangunan, serta tidak mencoba menangkap atau membunuh ular tanpa pengetahuan dan pelatihan yang memadai.
“Strategi mitigasi yang ideal bukanlah menghilangkan ular dari lingkungan, melainkan mengurangi risiko interaksi berbahaya sambil mempertahankan fungsi ekologisnya,” ucapnya.
Mirza menegaskan ular memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem karena membantu mengendalikan populasi tikus dan hama lainnya. Selain itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat sistem respons konflik satwa liar, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan kasus gigitan ular.
“Lalu mendorong pengembangan antivenom dan venom detection kits (VDK) untuk mempercepat identifikasi jenis bisa ular serta penanganan medis yang tepat,” tandas Mirza.
Bukan hanya itu, perlindungan habitat dan koridor ekologis juga menjadi langkah penting untuk mengurangi perpindahan satwa liar ke kawasan permukiman serta menekan potensi konflik dengan manusia.


