Narata.co, Medan — Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) mengajak masyarakat tidak berhenti pada kepedulian terhadap orang utan, tetapi mengambil tindakan nyata untuk menjaga hutan sebagai habitat satwa tersebut.
Ajakan itu disampaikan Ketua YEL Kusnadi dalam talkshow bertajuk “Act for Orangutan: From Awareness to Action” dalam rangka memperingati Hari Orang Utan Sedunia 2026 di Kafe Suara Senja, Kota Medan, Jumat (21/8/2026).
Kusnadi mengatakan Hari Orang Utan Sedunia tidak semestinya hanya dimaknai sebagai momentum untuk memperingati keberadaan orangutan.
“Momentum Hari Orang Utan juga dapat menjadi waktu untuk melakukan refleksi dan introspeksi sebagai manusia,” katanya.
Menurut Kusnadi, keberlangsungan orang utan sangat bergantung pada keputusan dan tindakan manusia dalam menjaga hutan serta lingkungan.
“Keberlangsungan orang utan sangat dipengaruhi oleh keputusan, pilihan, dan tindakan manusia dalam menjaga hutan serta lingkungan,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, perwakilan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Slamet Indarjo, memaparkan pentingnya kawasan konservasi dalam menjaga hutan sebagai habitat berbagai jenis satwa, termasuk orang utan.
Baca juga: Populasi Orang Utan Sumatra Turun 19,5 Persen, Peneliti Sebut Darurat Konservasi
Sementara itu, Dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Satya Terra Bhineka, Sahat Girsang, menekankan pentingnya memahami hutan sebagai ekosistem yang saling terhubung.
“Hutan bukan hanya sekadar kumpulan pepohonan. Di dalamnya terdapat hubungan yang kompleks antara tumbuhan, satwa, air, tanah, dan berbagai bentuk kehidupan lainnya,” kata Sahat.
Perwakilan BBKSDA Sumatra Utara, Edina Ginting, mengajak masyarakat melihat orang utan sebagai bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia yang patut dibanggakan.
“Orang utan merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia yang tidak dimiliki oleh banyak negara dan keberadaannya perlu dijaga bersama,” ujarnya.
Diskusi tersebut juga membahas berbagai upaya konservasi yang dilakukan pemerintah dan lembaga konservasi, serta pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menghadapi tantangan pelestarian orang utan dan habitatnya.
Selain talkshow, kegiatan diisi pertunjukan teatrikal oleh pelajar MTsN 4 Langkat. Pertunjukan tersebut menggambarkan kondisi dan masa depan orang utan yang sangat bergantung pada kepedulian manusia terhadap keberadaan satwa dan habitatnya.
Melalui tema “Act for Orangutan: From Awareness to Action”, YEL mendorong masyarakat mengambil bagian dalam konservasi sesuai kapasitas masing-masing, termasuk mendukung perlindungan hutan dan menerapkan perilaku yang lebih ramah lingkungan.


