Jumat, Oktober 30, 2026
No Result
View All Result
Narata
  • Home
  • News
  • Yang Luput
  • Komunitas
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Advertorial
  • Home
  • News
  • Yang Luput
  • Komunitas
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Advertorial
No Result
View All Result
Narata
No Result
View All Result

Indonesia Masuk Lima Besar Negara dengan Restorasi Ekosistem Terluas

by Redaksi
Oktober 30, 2026
in News, Lingkungan
Keterangan Foto: Hutan mangrove di kawasan pesisir Sumatra Utara. (Sumber: narata)

Keterangan Foto: Hutan mangrove di kawasan pesisir Sumatra Utara. (Sumber: narata)

Narata.co – Indonesia masuk dalam lima negara teratas dunia dalam upaya restorasi ekosistem. Bahkan, Indonesia menempati posisi pertama untuk restorasi ekosistem air tawar, terutama melalui pemulihan lahan gambut.
Capaian tersebut tercantum dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berjudul Nature’s Comeback: Scaling Ecosystem Restoration for People and Planet yang dirilis pada Kamis (29/10/2026).

Laporan yang diterbitkan bersama oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Program Lingkungan PBB (UNEP), dan Sekretariat Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) itu mencatat sebanyak 252 juta hektare lahan di 149 negara sedang direstorasi. Upaya tersebut telah menciptakan lebih dari satu juta lapangan kerja hijau.

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan kontribusi besar dalam gerakan restorasi global. Khusus ekosistem air tawar, upaya pemulihan lahan gambut menjadi bagian penting dari capaian tersebut.

Meski demikian, laporan itu mengingatkan bahwa upaya restorasi dunia masih perlu dipercepat untuk memenuhi target 2030. Perhatian khusus dibutuhkan pada ekosistem air tawar, laut, dan pesisir yang mengalami degradasi dengan cepat.

Laporan tersebut merupakan penilaian global komprehensif pertama terhadap kemajuan restorasi ekosistem. Penilaian ini juga mengukur upaya negara-negara dalam memenuhi target Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, yakni menempatkan sedikitnya 30 persen ekosistem darat, air tawar, laut, dan pesisir yang terdegradasi di bawah restorasi efektif pada 2030.

Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, mengatakan gerakan pemulihan alam telah berkembang menjadi salah satu gerakan terbesar bagi lingkungan. Namun, skala dan kecepatannya masih belum mencukupi.

“Namun, di titik tengah Dekade PBB untuk restorasi ekosistem. Kita masih belum merestorasi alam dalam skala maupun kecepatan yang dibutuhkan. Pada tahun 2030, kita harus mengubah berbagai inisiatif yang menginspirasi menjadi aksi yang menyeluruh secara sistem,” ujar Andersen.

Baca juga: Menyusuri Jalan Panjang Perdagangan Karbon Biru Mangrove Sumut

Secara regional, Asia mencatat luas area restorasi terdokumentasi terbesar, yakni 192,2 juta hektare. Berikutnya Afrika dengan 36,3 juta hektare, Eropa 9,1 juta hektare, Amerika Utara dan Tengah 5,8 juta hektare, Amerika Selatan 5,4 juta hektare, serta Oseania 3,2 juta hektare.

UNEP menegaskan perbedaan luas tersebut bukan merupakan peringkat kinerja restorasi.
Angka-angka itu juga dipengaruhi skala kegiatan restorasi, luas daratan setiap kawasan, serta kapasitas pemantauan dan pelaporan.

Dalam laporan tersebut, restorasi ekosistem darat telah mencapai hampir separuh dari target global 2030. Sementara itu, kemajuan pada ekosistem air tawar, laut, dan pesisir masih lebih terbatas.

Tercatat baru 11 juta hektare ekosistem air tawar di 62 negara dan 5,7 juta hektare ekosistem laut serta pesisir di 46 negara yang terdokumentasi sedang direstorasi. Meski begitu, laporan tersebut mengingatkan angka restorasi ekosistem perairan berpotensi lebih rendah dari kondisi sebenarnya akibat keterbatasan pelaporan.

Untuk mempercepat pemulihan alam, pendanaan restorasi tahunan dunia perlu meningkat lebih dari empat kali lipat, dari 64 miliar dolar AS menjadi 296 miliar dolar AS pada 2030.

Kebutuhan investasi terbesar diperkirakan untuk agroforestri sebesar 87 miliar dolar AS per tahun, reforestasi restoratif 52 miliar dolar AS, restorasi lahan gambut 44 miliar dolar AS, serta restorasi padang lamun 28 miliar dolar AS.

Direktur Jenderal FAO, QU Dongyu, mengatakan restorasi perlu menjadi bagian penting dari pengelolaan lahan, air, dan sumber daya alam secara berkelanjutan.

“Ekosistem yang sehat sangat penting untuk produksi, gizi, lingkungan, dan kehidupan lebih baik bagi semua. Tanpa ada seorang pun yang tertinggal,” ujarnya.

Laporan tersebut juga menekankan pentingnya komitmen politik jangka panjang, kepastian hak atas lahan, serta keterlibatan masyarakat dalam program restorasi. Upaya pemulihan alam perlu dilanjutkan setelah 2030 agar integritas ekosistem dan keanekaragaman hayati dapat pulih serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Tags: AlamEkosistemIndonesiaLingkunganPBBRestorasi
Redaksi

Redaksi

Recommended

Bencana Alam di Sumut, Menteri LH Hentikan Operasional PTAR, PTPN III dan NSHE PLTA Batang Toru (Foto: Narata/Istimewa)

Menteri LH Setop Operasional PTAR, PTPN III, dan NSHE Batang Toru

11 bulan ago
Keterangan Foto: Qatar vs Indonesia di penyisihan Grup B Piala Asia U-17 2026. (Sumber: MO AFC)

Qatar Kalahkan Indonesia 2-0 di Piala Asia U-17

6 bulan ago

Popular News

    • Home
    • Kebijakan Privasi
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Kontak Kami
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami

    Copyright © 2025. Narata.co. All rights reserved.

    No Result
    View All Result
    • Home
    • News
    • Komunitas
    • Lingkungan
    • Yang Luput
    • Olahraga
    • Advertorial

    Copyright © 2025. Narata.co. All rights reserved.

    Are you sure want to unlock this post?
    Unlock left : 0
    Are you sure want to cancel subscription?