Minggu, November 1, 2026
No Result
View All Result
Narata
  • Home
  • News
  • Yang Luput
  • Komunitas
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Advertorial
  • Home
  • News
  • Yang Luput
  • Komunitas
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Advertorial
No Result
View All Result
Narata
No Result
View All Result

14,8 Juta Petani Perempuan Indonesia Hadapi Ketimpangan di Tengah Krisis Iklim

by Redaksi
November 1, 2026
in News
Keterangan foto: Dua orang perempuan sedang berjalan menuju kebun. (Sumber foto: Wafdaazyak via Unsplash)

Keterangan foto: Dua orang perempuan sedang berjalan menuju kebun. (Sumber foto: Wafdaazyak via Unsplash)

Narata.co – Sebanyak 14,8 juta perempuan bekerja sebagai petani di Indonesia atau sekitar 38 persen dari total petani nasional. Meski berkontribusi besar terhadap sektor pertanian, mereka masih menghadapi ketimpangan akses terhadap lahan, pelatihan, dan layanan keuangan, serta dampak perubahan iklim yang lebih berat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 tersebut disoroti dalam Festival Raya Tani 2026 yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (31/10). Kegiatan yang diinisiasi Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) bersama UN Women, PIJAR Foundation, dan World Food Forum Indonesia itu mendorong peningkatan investasi dan dukungan bagi petani perempuan.

FAO mencatat, secara global perempuan menyumbang 41 persen tenaga kerja di sektor agripangan. Namun, kontribusi tersebut belum diimbangi akses yang setara terhadap berbagai sumber daya produktif.

Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, mengatakan petani perempuan tidak hanya menghadapi kerentanan akibat perubahan iklim, tetapi juga menunjukkan ketangguhan dalam menjaga ketahanan pangan.

“Festival Raya Tani 2026 menceritakan kisah di balik makanan yang tersaji di piring kita; kisah yang tidak hanya mencerminkan kerentanan perempuan petani terhadap perubahan iklim, tetapi juga ketangguhan mereka,” kata Rajendra.

Dia mendorong pemerintah, mitra pembangunan, sektor swasta, dan masyarakat untuk bersama-sama mengatasi kesenjangan gender serta meningkatkan investasi bagi petani perempuan.

Dalam festival tersebut, petani perempuan dari komunitas pesisir dan perkotaan memaparkan berbagai inisiatif lokal untuk menghadapi perubahan iklim. Upaya itu meliputi penerapan teknologi tepat guna dan skema pembiayaan berbasis komunitas untuk melindungi mata pencaharian, menjaga ketahanan pangan, serta melestarikan lingkungan.

Perwakilan UN Women untuk Indonesia sekaligus penghubung untuk ASEAN, Ulziisuren Jamsran, mengatakan perempuan petani memiliki peran penting dalam menopang penghidupan masyarakat, menjaga keanekaragaman hayati, dan memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim.

“Diperlukan peningkatan akses perempuan petani terhadap sumber daya, teknologi, dan ruang pengambilan keputusan, baik di sektor publik maupun swasta,” ucapnya

Laporan FAO berjudul The Unjust Climate menunjukkan dampak perubahan iklim tidak dirasakan secara setara oleh laki-laki dan perempuan. Laporan tersebut mencatat rumah tangga perdesaan yang dikepalai perempuan di negara berpenghasilan rendah dan menengah kehilangan pendapatan 8 persen lebih besar akibat tekanan panas dibandingkan rumah tangga yang dikepalai laki-laki. Kerugian itu diperkirakan mencapai 37 miliar dolar AS per tahun.

Sementara itu, akibat banjir, rumah tangga yang dikepalai perempuan mengalami kehilangan pendapatan 3 persen lebih besar atau sekitar 16 miliar dolar AS setiap tahun. Dalam forum Rembuk Tani yang menjadi bagian dari festival, petani perempuan, pemerintah, dan akademisi membahas solusi untuk memperkuat ketahanan iklim sekaligus mengatasi ketidaksetaraan gender.

Baca juga: Indonesia Masuk Lima Besar Negara dengan Restorasi Ekosistem Terluas

Asisten Deputi Produksi Pangan dan Perubahan Iklim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Fajar Nuradi, mengatakan peningkatan kapasitas petani dalam menerapkan pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture) perlu diikuti dengan perluasan akses terhadap pendanaan, bibit, dan lahan.

“Ketahanan pangan dan perubahan iklim saling berkaitan erat. Dalam konteks tersebut, penerapan climate-smart agriculture menjadi sangat relevan,” ujarnya.

Sementara itu, Asisten Deputi Pengarusutamaan Gender Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Partisipasi Masyarakat, dan Pemerintah Daerah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dewa Ayu Laksmiadi, menyebut sejumlah program telah diarahkan untuk memperkuat ketahanan perempuan menghadapi perubahan iklim.

“Program tersebut antara lain Ruang Bersama Indonesia dan Kebun Pangan Perempuan yang bertujuan meningkatkan produktivitas perempuan dengan memanfaatkan lahan yang tersedia,” tuturnya.

FAO memperkirakan upaya menutup kesenjangan gender berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) global sebesar 1 triliun dolar AS dan mengurangi kerawanan pangan bagi 45 juta orang.

Selain diskusi dan dialog kebijakan, Festival Raya Tani 2026 juga menghadirkan Pasar Tani yang menampilkan produk segar dan olahan dari petani serta produsen perempuan di berbagai daerah.

Produk yang dipamerkan antara lain olahan berbasis sagu dari Riau, produk rumput laut dari Nusa Tenggara Timur, serta produk organik dari 19 provinsi di Indonesia.

Festival ini juga diisi final Youth Innovation Challenge 2026. Lima pemuda terpilih dari lebih dari 90 peserta mempresentasikan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat ketahanan iklim dalam sistem agripangan nasional dengan memperhatikan kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI).

Direktur Eksekutif PIJAR Foundation, Cazadira Fediva Tamzi, mengatakan kontribusi perempuan petani masih terkendala keterbatasan akses terhadap lahan, modal, teknologi, pelatihan, dan ruang dalam pengambilan kebijakan.

“Perempuan petani perlu mendapatkan kesempatan dan sumber daya yang setara agar dapat mengembangkan potensi mereka,” ungkapnya.

PBB menetapkan 2026 sebagai Tahun Internasional Petani Perempuan (International Year of the Woman Farmer). Penetapan ini bertujuan meningkatkan kesadaran mengenai peran perempuan dalam sistem agripangan sekaligus mendorong kebijakan untuk mengatasi kesenjangan gender dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Tags: FAOIklimKesejahteraanPBBPerempuanPetani
Redaksi

Redaksi

Next Post
Keterangan Foto: Phillerson (tengah) melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang PSGC Ciamis, Sabtu 31 Oktober 2026. (Sumber: MO PSMS)

Phillerson Cetak Brace saat Ayam Kinantan Tumbangkan PSGC Ciamis

Recommended

Tuan Rondahaim Saragih Garingging. (Foto: Wikipedia)

Tuan Rondahaim Saragih Garingging ‘Napoleon dari Tanah Batak’ Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional

12 bulan ago
Diskon 20% Bikin Laris! Penjualan Tiket Kapal PELNI Melonjak Signifikan Jelang Nataru 2025/2026 (Foto: Narata/Istimewa)

Diskon 20% Bikin Laris! Penjualan Tiket Kapal PELNI Melonjak Signifikan Jelang Nataru 2025/2026

11 bulan ago

Popular News

    • Home
    • Kebijakan Privasi
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Kontak Kami
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami

    Copyright © 2025. Narata.co. All rights reserved.

    No Result
    View All Result
    • Home
    • News
    • Komunitas
    • Lingkungan
    • Yang Luput
    • Olahraga
    • Advertorial

    Copyright © 2025. Narata.co. All rights reserved.

    Are you sure want to unlock this post?
    Unlock left : 0
    Are you sure want to cancel subscription?