Narata.co – Buah tanpa biji tidak berarti tanaman kehilangan kemampuan untuk berkembang biak. Pakar pemuliaan tanaman IPB University, Prof Sobir, menegaskan buah tanpa biji dapat terbentuk melalui mekanisme biologis maupun perlakuan buatan, sementara tanaman tetap dapat diperbanyak dengan cara lain.
“Buah tanpa biji dapat terbentuk melalui mekanisme biologis alami tertentu maupun perlakuan buatan, sehingga tanaman tetap dapat berkembang biak dengan cara lain,” kata Prof Sobir, Kamis (6/8/2026).
Salah satu contoh paling umum adalah semangka tanpa biji yang dihasilkan melalui persilangan tanaman tetraploid dan diploid sehingga menghasilkan tanaman triploid.
Prof Sobir menjelaskan tanaman triploid memiliki jumlah kromosom yang tidak seimbang saat pembentukan gamet sehingga tidak mampu menghasilkan biji secara normal. Meski demikian, tanaman tetap dapat membentuk buah setelah terjadi penyerbukan menggunakan serbuk sari dari semangka diploid.
“Penyerbukan menginduksi pembentukan buah, tetapi karena ketidakseimbangan kromosom, biji tidak berkembang sempurna sehingga buah yang dihasilkan praktis tanpa biji,” jelasnya.
Selain melalui mekanisme genetik, buah tanpa biji juga dapat dihasilkan ketika penyerbukan terjadi, tetapi proses fertilisasi gagal. Kondisi tersebut tetap merangsang perkembangan bakal buah meski biji tidak terbentuk.
Cara lain menghasilkan buah tanpa biji adalah dengan pemberian hormon tanaman, seperti auksin dan giberelin. Hormon tersebut mampu merangsang perkembangan bakal buah tanpa proses pembuahan.
Baca juga: Limbah Daun Nanas dapat Diubah Menjadi Produk Kesehatan Bernilai Tinggi
Prof Sobir mencontohkan teknik tersebut telah diterapkan di Jepang dengan mencelupkan bunga yang belum mekar ke dalam larutan giberelin sehingga buah berkembang tanpa menghasilkan biji. Teknik serupa juga telah digunakan pada tanaman tomat.
“Tanaman buah tanpa biji tetap dapat dibudidayakan. Pada semangka tanpa biji, tanaman tetua diploid dan tetraploid tetap diperbanyak untuk menghasilkan benih tanaman triploid,” ungkapnya.
Sementara tanaman buah tanpa biji lainnya umumnya diperbanyak secara vegetatif melalui sambung pucuk, cangkok, atau kultur jaringan.
“Dengan demikian, ketiadaan biji pada buah yang dikonsumsi tidak berarti tanaman kehilangan kemampuan untuk diperbanyak,” ucap Prof Sabir.
Meski lebih praktis dikonsumsi, Prof Sobir mengingatkan buah tanpa biji belum tentu memiliki cita rasa yang lebih baik. Menurutnya, proses penyerbukan dan fertilisasi berperan dalam pembentukan senyawa yang turut memengaruhi rasa buah.
“Misalnya semangka tanpa biji kurang diminati di Jepang karena dinilai kalah dari segi rasa dibandingkan semangka berbiji,” ujarnya.
Selain itu, Prof Sobir menilai pengembangan buah tanpa biji perlu tetap memperhatikan kelestarian sumber daya genetik. Menurutnya, dominasi tanaman tanpa biji berpotensi mengurangi keragaman genetik sehingga tanaman lebih rentan terhadap perubahan lingkungan, hama, dan penyakit.
“Inovasi buah sebaiknya menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumen, kualitas produk, dan kelestarian sumber daya genetik tanaman,” pungkasnya.



