Narata.co — Peringatan Hari Kacang-kacangan Sedunia (World Pulses Day) pada 10 Februari 2026 menjadi momentum untuk menyoroti potensi kacang hijau sebagai pangan lokal bergizi dalam upaya pencegahan stunting (tengkes) pada anak.
Pakar Gizi IPB University, Prof Ali Khomsan, mengatakan kacang hijau merupakan salah satu sumber protein nabati penting yang mudah diperoleh dan terjangkau oleh masyarakat. Kandungan gizinya dinilai relevan untuk mendukung pemenuhan gizi anak dan ibu hamil.
“Kalau kita bicara tentang kacang hijau sebagai leguminosa, itu adalah tanaman yang memang kaya protein. Kandungan proteinnya bisa berkisar 20 sampai 35 persen, sehingga relatif tinggi,” kata Ali, Sabtu (7/2/2026).
Selain kandungan protein, harga kacang hijau yang relatif murah membuatnya berpotensi diakses oleh berbagai lapisan masyarakat. Menurut Ali, pemanfaatan kacang hijau sebagai makanan tambahan di posyandu dapat membantu meningkatkan asupan protein anak, khususnya mereka yang mengalami stunting dan gizi buruk. Namun, ia menekankan bahwa pemberian makanan tambahan harus dilakukan secara berkelanjutan agar berdampak signifikan.
“Kalau di posyandu pemberiannya hanya satu bulan sekali, itu pasti tidak cukup. Anak-anak yang mengalami stunting atau masalah gizi perlu pendekatan pangan harian, ada yang selama tiga bulan, bahkan sampai enam bulan,” ujarnya.
Baca juga: Limbah Daun Nanas dapat Diubah Menjadi Produk Kesehatan Bernilai Tinggi
Ali menilai olahan kacang hijau dalam bentuk bubur, camilan, maupun produk pangan lainnya relatif mudah diterima anak-anak. Hal tersebut menjadikan kacang hijau sebagai salah satu pangan lokal yang berpotensi dioptimalkan dalam program perbaikan gizi.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa protein nabati memiliki daya cerna dan daya serap yang lebih rendah dibandingkan protein hewani. Karena itu, kacang hijau tidak dapat dijadikan satu-satunya solusi dalam penanggulangan stunting.
“Protein nabati daya cernanya tidak setinggi pangan hewani. Itu harus dikombinasikan dengan sumber protein hewani seperti telur, susu, atau pangan hewani lainnya,” ucap Ali.
Ia merekomendasikan agar pemanfaatan kacang hijau diintegrasikan secara rutin dan berjangka panjang dalam program pemberian makanan tambahan di posyandu, disertai edukasi gizi kepada masyarakat.
“Pendekatan tersebut dapat memperkuat upaya pencegahan stunting berbasis pangan lokal dan berkontribusi pada perbaikan status gizi anak secara berkelanjutan,” tandas Ali.



