Narata.co – Pakar Sosiologi Pedesaan IPB University, Ivanovich Agusta, menilai bencana alam tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga merusak struktur sosial yang menjadi penopang kehidupan masyarakat desa. Hal itu ia sampaikan saat menyoroti banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurutnya, pascabencana masyarakat menghadapi disrupsi mendadak dalam relasi sosial. Hilangnya ruang komunal seperti balai desa, musala, pasar, dan jalan desa menyebabkan interaksi warga melemah.
“Ketika ruang-ruang itu hilang, ritme kehidupan desa terputus. Interaksi melemah, komunikasi terganggu, dan solidaritas sosial ikut teruji,” kata Ivanovich lewat siaran persnya, Kamis (11/12).
Selain kerusakan fisik, masyarakat juga mengalami tekanan psikososial berupa rasa takut, trauma, dan ketidakpastian. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya semangat kerja serta partisipasi warga dalam kegiatan sosial.
Ivanovich menambahkan, bencana turut mengganggu pranata sosial desa seperti jadwal tanam, kegiatan kelompok tani, arisan, posyandu, dan aktivitas keagamaan.
“Terhentinya pranata sosial ini sangat melemahkan integrasi masyarakat desa,” katanya.
Ia menyebut anak-anak, perempuan, lansia, dan petani sebagai kelompok yang paling rentan terdampak. Anak kehilangan rasa aman dan akses pendidikan, sementara perempuan menanggung beban ganda dalam kondisi sumber daya terbatas.
Baca juga: Ferry Irwandi Terjun Langsung Bantu Korban Banjir Terisolasi Sumatra
Lansia menghadapi keterbatasan mobilitas dan ketergantungan pada keluarga. Adapun petani mengalami dampak jangka panjang akibat kerusakan lahan, irigasi, dan hilangnya ternak.
Di wilayah terdampak bencana, Ivanovich menilai potensi konflik sosial meningkat, terutama terkait distribusi bantuan. Ketidakjelasan data korban, minimnya transparansi, dan penyaluran bantuan yang tidak merata dapat memicu kecemburuan.
“Dalam situasi bencana, kelelahan psikologis membuat masyarakat lebih sensitif. Ketimpangan kecil saja bisa memicu kecemburuan sosial,” ujar Ivanovich.
Keterlibatan pemimpin lokal dalam penyaluran bantuan pun berpotensi menimbulkan persepsi negatif jika dianggap memprioritaskan kelompok tertentu.
Menurut Ivanovich, solidaritas warga biasanya kuat pada fase awal bencana, tetapi dapat melemah dalam jangka menengah akibat kelelahan kolektif dan ketidakpastian pemulihan. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sangat ditentukan oleh kecepatan dan transparansi respons bencana.
Ivanovich menekankan bahwa pemulihan pascabencana perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pemulihan psikososial, pengaktifan kembali pranata sosial, pendataan transparan, pemulihan mata pencaharian, penguatan peran pemerintah desa, serta mitigasi berbasis komunitas.
“Bencana bukan hanya soal hari ini, tetapi bagaimana kita membangun kembali ketahanan sosial desa untuk masa depan,” pungkasnya.



