Narata.co – Keberadaan mikroplastik di perairan Indonesia kini menjadi ancaman serius bagi kemampuan laut dalam menyerap karbon. Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi IPB University, Prof Etty Riani, mengungkapkan bahwa limbah plastik berukuran mikro ini mengganggu organisme kunci seperti fitoplankton dan zooplankton.
Meski bukan penyebab tunggal, Etty menjelaskan bahwa mikroplastik, terutama nanoplastik, dapat menempel pada permukaan fitoplankton. Hal ini menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan untuk fotosintesis.
“Kondisi ini menghambat proses fotosintesis dan menurunkan kemampuan fitoplankton dalam menyerap karbon dari atmosfer,” ujar Etty, Kamis (22/1/2026).
Lebih lanjut, ia memaparkan gangguan pada rantai makanan laut. Zooplankton sering kali mengonsumsi mikroplastik karena bentuknya yang menyerupai makanan alami. Akibatnya, zooplankton kekurangan nutrisi dan proses membawa karbon ke dasar laut melalui kotoran (marine snow) menjadi terhambat.
”Keberadaan mikroplastik membuat kotoran zooplankton menjadi lebih ringan sehingga proses tenggelam ke dasar laut berlangsung lebih lambat. Karbon pun lebih lama berada di permukaan dan berisiko terlepas kembali ke atmosfer,” tambah Etty.
Baca juga: Peneliti: Ikan Hiu Tak Aman untuk Menu MGB Usai Kasus Keracunan di Ketapang
Selain mengganggu proses biologis, mikroplastik juga diketahui menjadi pembawa bagi bahan berbahaya dan beracun (B3), seperti logam berat, yang dapat merusak organ tubuh biota laut hingga menurunkan populasinya.
Untuk mengatasi hal ini, Etty mendorong langkah holistik mulai dari pengurangan plastik sekali pakai, penghapusan microbeads pada kosmetik, hingga perubahan paradigma limbah menjadi bernilai ekonomi melalui ekonomi sirkular.
”Pengurangan mikroplastik perlu dilakukan melalui kombinasi kebijakan yang efektif, teknologi inovatif, serta perubahan perilaku masyarakat yang konsisten. Kolaborasi lintas instansi, termasuk dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, sangat krusial untuk meminimalkan sumbangan plastik ke laut,” pungkasnya.



