Narata.co — Ketua Umum Erick Thohir menegaskan bahwa Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia tidak membenarkan segala bentuk rasisme dalam sepak bola nasional, baik dalam kompetisi usia muda maupun profesional.
“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepak bola, baik di tingkat internasional maupun nasional,” ujar Erick seperti dikutip dari laman resmi PSSI, Kamis (23/4/2026).
Ia menekankan, setiap peristiwa yang mengandung unsur rasisme harus disikapi secara serius dan tegas oleh seluruh pihak, termasuk operator kompetisi dan klub. Menurut Erick, pembinaan sepak bola, khususnya pada usia muda, tidak hanya berfokus pada aspek teknis dan hasil pertandingan, tetapi juga pembentukan karakter pemain.
“Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. Prestasi tidak cukup hanya dengan kemampuan teknis, tetapi juga harus ditopang karakter yang baik,” katanya.
Erick juga meminta operator kompetisi, termasuk I-League, serta klub peserta Liga 1, Liga 2, dan Elite Pro Academy (EPA) untuk terus menegakkan nilai saling menghargai dan empati antar pemain. Selain itu, PSSI mendorong penguatan sosialisasi terkait anti-rasisme, anti-kekerasan, dan kepatuhan terhadap aturan pertandingan di seluruh level kompetisi.
“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang dewasa dan berkarakter. Operator, klub, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan seiring dengan pembinaan teknik,” ucap Erick.
Dalam kesempatan tersebut, Erick juga mengapresiasi langkah Bhayangkara FC dan Dewa United yang telah mempertemukan dan mendamaikan dua pemain yang terlibat konflik, yakni Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis.
“Saya mengapresiasi kedua klub yang mengedepankan persatuan dan kesatuan. Ini harus menjadi pelajaran bagi para pemain,” pungkasnya.


