Narata.co, Medan — Satgas gabungan menggagalkan dugaan penyelundupan 1,16 ton ketamin hidroklorida (HCl) yang diangkut kapal MT Global 168 setelah memantau pergerakan kapal tersebut melalui sistem identifikasi otomatis atau automatic identification system (AIS). MT Global 168 diketahui kapal berbendera Mongolia.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Kristian Parluhutan Siagian, menjelaskan operasi bermula dari informasi mengenai kapal tanker yang diduga membawa narkoba atau obat-obatan keras secara ilegal. Kecurigaan semakin menguat setelah pemantauan AIS menunjukkan pola pergerakan kapal yang tidak biasa.
“Pada 14 Oktober 2026, MT Global 168 terpantau melintasi Selat Malaka, sejajar dengan perairan Taiping, Malaysia. Sehari kemudian, kapal tersebut terdeteksi mengalami penurunan kecepatan di perairan sebelah barat George Town, Pulau Penang, Malaysia, sebelum bergerak ke arah Selat Malaka bagian utara,” jelas Krist, Jumat (23/10/2026).
Kemudian, sekitar pukul 18.57 WIB, kapal itu terpantau tiba di perairan lepas pantai utara Aceh. Pemantauan berlanjut di perairan Thailand. Menurut kronologi yang disampaikan Krist, kapal terpantau melakukan manuver dan mengalami penurunan kecepatan sebelum mengubah arah dari area labuh jangkar dan kemudian menjatuhkan jangkar.
“Tim gabungan terus menganalisis pergerakan kapal untuk memastikan dugaan penyelundupan. Pada 19 Oktober 2026 sekitar pukul 22.00 WIB, Satgas Joint Operation menggelar koordinasi di kantor Bea dan Cukai Kuala Tanjung, Sumut,” ungkap Krist.
Baca juga: WNA Taiwan Manajer Kapal MT Global 168 Jadi Tersangka Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin
Dalam koordinasi tersebut, tim menyusun rencana operasi untuk mencegat MT Global 168 sebelum kapal itu memasuki Pelabuhan Port Klang, Malaysia. Sekitar pukul 23.00 WIB, operasi intersepsi mulai disiapkan dengan melibatkan kapal KP Murai milik Direktorat Polair Baharkam Polri dan kapal BC 20006 milik Bea Cukai.
“Pemantauan AIS pada 20 Oktober 2026 kembali menunjukkan pergerakan MT Global 168 yang relatif lambat dan manuver di perairan barat Thailand. Kapal tanker tersebut juga terpantau menjangkar di kawasan Laut Andaman. Tim menduga kapal itu sedang menunggu instruksi terkait kemungkinan aktivitas ship-to-ship atau pemindahan muatan antarkapal,” ujar Krist.
Krist mengatakan tim gabungan kemudian mendekati dan menaiki MT Global 168 untuk melakukan pemeriksaan. Kemudian, sekitar pukul 03.05 waktu setempat, Satgas gabungan yang on board menggunakan kapal BC 20006 tiba di lokasi perairan Tanjung Balai Asahan dan langsung mendekati kapal MT Global 168 dengan bantuan kapal KP Murai Ditpolair Baharkam Polri.
“Satgas joint operation berhasil mencegah dan on board ke kapal MT Global 168 serta mengamankan delapan orang awak kapal yang terdiri dari tujuh WNI dan satu WNA Taiwan. Kapal MT Global 168 beserta awak kapal kemudian dikawal menuju Pelabuhan Belawan,” ucap Krist.
Setelah intersepsi, MT Global 168 dikawal kapal BC 20006 dan KP Murai menuju Pelabuhan Belawan. Kapal tanker berbendera Mongolia tersebut dilaporkan tiba di pelabuhan pada 21 Oktober 2026 sekitar pukul 12.00 WIB. Petugas kemudian menginterogasi seluruh awak kapal, menggeledah kapal, serta memeriksa perangkat komunikasi untuk mendalami dugaan penyelundupan tersebut.
“Dari pemeriksaan, kami mengungkap temuan 1.160 bungkus ketamin HCl dengan berat masing-masing sekitar satu kilogram. Barang tersebut disimpan dalam 58 karung berwarna hijau di ruang pompa kapal. Operasi gabungan tersebut sebagai upaya mencegah masuknya narkoba ke Indonesia. Penyidik masih mendalami dugaan keterlibatan pihak lain dalam perkara tersebut,” pungkas Krist.



