Narata.co – Banjir disertai tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat berdampak pada kesehatan masyarakat, khususnya warga yang tinggal di pengungsian. Salah satu risiko kesehatan yang meningkat pascabencana adalah penyakit kulit akibat kondisi lingkungan yang lembap, kurang higienis, dan padat penghuni.
Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Widya Khairunnisa Sarkowi, mengatakan paparan air banjir yang tercemar menjadi pemicu utama meningkatnya keluhan penyakit kulit. Menurutnya, air banjir umumnya bercampur lumpur, sampah rumah tangga, kotoran, hingga bangkai yang memudahkan terjadinya infeksi.
“Air banjir yang tercemar sangat ideal memicu penyakit kulit, terutama jika warga terpapar dalam waktu lama,” ujar Widya dalam keterangannya, Rabu (17/12/2025).
Ia menjelaskan, berbagai temuan di negara-negara rawan banjir menunjukkan pola yang sama, yakni meningkatnya kasus penyakit kulit pada fase tanggap darurat. Kondisi serupa juga kerap terjadi di berbagai lokasi banjir di Indonesia.
Jenis penyakit kulit yang paling sering ditemukan antara lain dermatitis kontak, infeksi jamur, dan infeksi bakteri. Dermatitis kontak ditandai dengan kulit kemerahan, gatal, dan perih akibat paparan air banjir atau bahan pembersih.
Baca juga: Pakar IPB: Bencana Rusak Ketahanan Sosial Desa dan Tingkatkan Potensi Konflik
“Sementara infeksi jamur seperti kurap sering muncul di area badan, selangkangan, dan sela jari kaki. Adapun infeksi bakteri, seperti impetigo, folikulitis, dan selulitis, umumnya dialami warga yang memiliki luka terbuka,” jelas Widya.
Selain itu, korban banjir juga kerap mengalami luka traumatik akibat tersayat puing atau benda tajam saat evakuasi. Luka tersebut berisiko terinfeksi karena lingkungan yang lembap dan minim sanitasi.
Widya mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala infeksi kulit yang mulai menunjukkan tanda serius, seperti kemerahan luas, pembengkakan, rasa hangat, nyeri hebat, luka bernanah, berbau, atau disertai demam. “Jika gejala tersebut muncul, warga harus segera mencari pertolongan medis,” katanya.
Ia menambahkan, kelompok yang paling rentan terserang penyakit kulit adalah warga dengan keterbatasan akses kebersihan dan layanan kesehatan. Kelompok ini meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, serta warga dengan kondisi gizi buruk.
Sebagai upaya pencegahan, masyarakat diimbau tetap menjaga kebersihan diri meski berada dalam kondisi darurat. Warga disarankan mandi menggunakan air bersih dan sabun, memakai alas kaki, serta menghindari penggunaan bersama barang pribadi seperti handuk dan pakaian.
“Prinsip pencegahan yang sederhana adalah membersihkan, mengeringkan, dan melindungi kulit setelah terpapar air banjir,” ujar Widya.



