Narata.co – Informasi bahwa ikan kakatua memakan terumbu karang hingga menghasilkan pasir putih pantai ramai beredar di media sosial. Meski terdengar merusak, perilaku tersebut justru berperan penting menjaga kesehatan ekosistem terumbu karang sekaligus berkontribusi pada pembentukan pasir putih di kawasan pesisir.
Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, Dr Adriani Sunuddin, menjelaskan bahwa ikan kakatua menggigit dan menghancurkan sebagian matriks kapur karang saat mencari makan. Material tersebut kemudian melewati sistem pencernaan dan dikeluarkan dalam bentuk butiran pasir halus yang perlahan mengendap di pesisir.
“Setelah melewati sistem pencernaan, sisa material tersebut dikeluarkan dalam bentuk butiran pasir yang sangat halus dan perlahan mengendap di pesisir sehingga berkontribusi terhadap pembentukan pasir putih di pantai,” kata Adriani, Jumat (31/7/2026).
Namun, Adriani menegaskan sasaran utama sebagian besar ikan kakatua bukanlah terumbu karang, melainkan alga dan mikroorganisme yang menempel di permukaannya.
“Ikan kakatua berperan sebagai insinyur ekosistem terumbu karang. Aktivitas mengikis maupun mengunyah karang memberikan manfaat ekologis yang jauh lebih besar dibandingkan kerusakan fisik yang ditimbulkannya,” ujarnya.
Menurut Adriani, berdasarkan cara makannya, ikan kakatua terbagi menjadi kelompok scrapers(pengikis) dan excavators (pengeruk). Kelompok pengikis membantu membersihkan alga yang tumbuh cepat sehingga memberi ruang bagi larva karang untuk menempel dan berkembang menjadi koloni baru.
Baca juga: Peneliti IPB Sebut Ekonomi Sirkular Jadi Solusi Krisis Ekologi
Sementara itu, kelompok pengeruk membantu memperluas penyebaran fragmen karang maupun alga endosimbion yang masih hidup sehingga mendukung regenerasi alami terumbu karang.
“Penurunan populasi ikan kakatua akibat penangkapan berlebihan maupun kerusakan habitat dapat memicu dominasi alga, mengurangi produksi pasir alami, serta menurunkan ketahanan terumbu karang terhadap penyakit, pemutihan karang (coral bleaching), dan gangguan lingkungan lainnya,” jelas Adriani.
Bukan hanya itu, Adriani juga menyebut seekor ikan kakatua dewasa mampu menghasilkan sekitar 90–450 kilogram pasir setiap tahun. Adapun ikan kakatua kepala benjol (Bolbometopon) bahkan dapat menghasilkan lebih dari lima ton pasir dalam setahun.
“Pasir tersebut menjadi salah satu penyusun pulau-pulau kecil dan pantai berpasir putih di kawasan terumbu karang,” ungkapnya.
Karena itu, Adriani mendorong pengelolaan ikan kakatua berbasis masyarakat, penguatan hukum adat di wilayah pesisir, penerapan aturan penangkapan, serta edukasi mengenai pentingnya spesies tersebut bagi kesehatan ekosistem laut.
“Konservasi ikan kakatua bukan hanya menjaga satu jenis ikan, tetapi juga mempertahankan kemampuan terumbu karang untuk pulih, melindungi keanekaragaman hayati laut, dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir,” pungkasnya.


