Narata.co – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memperingati Hari HAM Sedunia 2025 di Banda Aceh pada 10 Desember dengan tema “Memuliakan Kemanusiaan, Merawat Perdamaian.” Peringatan tahun ini berlangsung di tengah bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, yang disebut Komnas HAM sebagai pengingat pentingnya tata kelola lingkungan dan mitigasi bencana dalam pemenuhan HAM.
Data nasional menunjukkan 967 orang meninggal, 264 hilang, 5.000 luka-luka, serta 157 ribu rumah dan 498 jembatan rusak. Sebanyak 584 sekolah juga terdampak.
Sementara itu, BNPB Aceh mencatat hingga 10 Desember sebanyak 391 warga meninggal, 31 hilang, lebih dari 4.300 terluka, serta 138.500 rumah rusak di 18 kabupaten/kota, dengan total 831 ribu warga mengungsi. Kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas menjadi yang paling terdampak.
Komnas HAM menyatakan bencana ini harus dipahami sebagai sinyal kemanusiaan yang menuntut intervensi cepat dan langkah pemulihan yang memadai dari negara. Penguatan mitigasi bencana disebut penting agar masyarakat tidak terus menjadi korban akibat kelalaian dalam menjaga lingkungan sebagai ruang hidup.
Sejak 8–9 Desember, Komnas HAM melakukan pemantauan langsung ke wilayah terdampak di Sumatera Utara, Sumatera Barat, serta sejumlah daerah di Aceh seperti Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen. Pemantauan berfokus pada kondisi penyintas, terutama kelompok rentan, serta memastikan pemenuhan hak dasar di lokasi pengungsian. Komnas HAM juga memberikan dukungan kepada warga, termasuk anak-anak.
Baca juga: Pakar IPB: Bencana Rusak Ketahanan Sosial Desa dan Tingkatkan Potensi Konflik
Pada 10 Desember, Komnas HAM menggelar donor darah dan doa bersama di Kantor Sekretariat Komnas HAM Aceh dan Sumatera Barat. Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, hadir di Aceh untuk memberikan dukungan moral dan memperkuat koordinasi penanganan bencana.
Ketua Komnas HAM RI, Anis Hidayah, menilai solidaritas publik yang muncul di tengah bencana melalui gerakan relawan, komunitas lokal, dan organisasi masyarakat sipil menjadi kekuatan sosial yang penting.
“Solidaritas warga tidak dapat menggantikan kewajiban negara dalam memastikan pemulihan yang berkeadilan dan menyeluruh,” katanya, Kamis (11/12/2025).
Komnas HAM berharap rangkaian peringatan Hari HAM Sedunia 2025 dapat membawa keteduhan bagi warga terdampak, memperkuat semangat pemulihan, serta menghadirkan harapan baru bagi masyarakat di Aceh dan wilayah lain yang masih berjuang bangkit.



