Narata.co – Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Karina Rahmadia Ekawidyani, mengatakan telur ceplok dan telur dadar pada dasarnya memiliki kandungan gizi yang hampir sama. Perbedaan terutama dipengaruhi jumlah minyak dan bahan tambahan yang digunakan saat memasak.
“Secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi yang berarti antara telur ceplok dan telur dadar. Perbedaan biasanya adalah kandungan lemak, bergantung dari jumlah minyak yang digunakan untuk memasak,” kata Karina dalam keterangannya, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Karina, telur dadar berpotensi mengandung kalori dan lemak lebih tinggi karena dalam proses memasaknya cenderung menyerap lebih banyak minyak. “Kandungan kalori juga dapat bertambah apabila telur dadar dicampur dengan bahan lain, seperti keju, tepung, sosis, atau daging cincang,” ujarnya.
Karina menjelaskan proses memasak justru dapat meningkatkan daya cerna protein dalam telur. Pemanasan menyebabkan protein mengalami denaturasi sehingga lebih mudah dicerna dan diserap tubuh.
“Proses memasak telur dapat meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen,” jelasnya.
Baca juga: Pakar Sebut Telur Ayam Bibit Tidak Layak Konsumsi, Ini Alasannya
Meski demikian, Karina mengingatkan telur sebaiknya tidak dimasak pada suhu terlalu tinggi dalam waktu lama. Menurutnya, suhu memasak yang dianjurkan berkisar 60–80 derajat Celsius. Pemanasan di atas 150–160 derajat Celsius disebut berpotensi merusak sebagian asam amino dan menurunkan kualitas gizi.
“Bagi masyarakat yang sedang menjaga berat badan, Karina menyarankan metode pengolahan tanpa minyak, seperti merebus, membuat telur rebus tanpa cangkang (poached egg), atau mengukus,” ungkapnya.
Telur ceplok maupun telur dadar, kata Karina, tetap dapat dikonsumsi dengan memperhatikan penggunaan minyak. Salah satu caranya dengan menggunakan wajan antilengket atau minyak semprot untuk mengurangi jumlah minyak saat memasak. Karina juga meluruskan anggapan bahwa kuning telur harus dihindari karena mengandung kolesterol. Kuning telur justru mengandung berbagai vitamin dan mineral penting.
Berdasarkan berbagai penelitian terbaru yang dirujuk Karina, konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung. Peningkatan kolesterol darah, kata dia, lebih dipengaruhi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan sumber kolesterol.
“Telur tetap dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang dengan memperhatikan metode pengolahan dan bahan tambahan yang digunakan,” ucap Karina.



