Narata.co – Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Etty Riani, mengingatkan pencemaran plastik di laut Indonesia semakin serius karena telah terurai menjadi mikroplastik dan nanoplastik yang ditemukan pada berbagai biota laut hingga garam.
Menurut Etty, mikroplastik telah ditemukan di air laut, sedimen, ikan, kerang, udang, dan teripang. Kondisi tersebut berpotensi mengancam ekosistem sekaligus kesehatan manusia karena bahan pencemar dapat masuk melalui rantai makanan. Pencemaran laut di Indonesia kini tidak hanya terjadi di sekitar kawasan perkotaan, tetapi telah meluas hingga wilayah pesisir yang jauh dari pusat aktivitas manusia.
“Sebagian besar pencemaran laut berasal dari aktivitas di daratan, seperti limbah domestik, industri, pertanian, maupun sampah yang terbawa sungai hingga ke laut,” ucap Etty dalam keterangannya, Sabtu (18/7/2026).
Sampah plastik, kata Etty, masih menjadi salah satu penyumbang terbesar pencemaran laut di Indonesia. Berdasarkan berbagai penelitian di wilayah pesisir, sampah yang banyak ditemukan antara lain kemasan makanan dan minuman sekali pakai, kantong plastik, botol, sedotan, styrofoam, serta jaring dan tali berbahan plastik. Persoalan tersebut semakin serius karena plastik sulit terurai dan dapat bertahan hingga ratusan tahun di lingkungan. Dalam jangka panjang, plastik akan terpecah menjadi partikel berukuran lebih kecil berupa mikroplastik hingga nanoplastik.
“Selain mengancam biota laut, pencemaran juga berdampak terhadap ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang menjadi habitat berbagai jenis organisme laut,” ungkap Etty.
Baca juga: Peneliti Ungkap Bahaya Mikroplastik: Hambat Fotosintesis Laut dan Rusak Rantai Makanan
Etty memperingatkan dampak pencemaran laut dapat semakin luas apabila tidak ditangani secara serius dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. Produktivitas perikanan berpotensi menurun akibat kerusakan habitat, sementara akumulasi bahan pencemar dan mikroplastik pada biota laut dapat berdampak terhadap keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.
“Dampak ekonomi juga berpotensi dirasakan masyarakat pesisir. Nelayan menghadapi risiko penurunan hasil tangkapan dan kualitas produk perikanan, sedangkan sektor pariwisata bahari dapat terdampak akibat memburuknya kualitas lingkungan pesisir,” jelasnya.
Etty menilai masyarakat dapat berperan mencegah pencemaran dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah dan mengelola sampah, serta tidak membuang sampah ke sungai maupun pantai.
“Penanganan pencemaran laut harus dilakukan secara terpadu melalui penguatan penegakan hukum, penerapan ekonomi sirkular, serta kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat. Dengan begitu, kita dapat mewariskan ekosistem laut yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” pungkasnya.



