Narata.co — Unta, hewan yang dikenal mampu bertahan di lingkungan gurun yang panas dan minim air, kini menghadapi ancaman serius akibat peningkatan suhu ekstrem. Dalam beberapa tahun terakhir, suhu gurun yang dapat mencapai 50–55 derajat celsius disebut telah menyebabkan luka lepuh, dehidrasi, gagal ginjal, hingga kematian pada unta.
Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny R Noor, mengatakan meningkatnya kematian unta menunjukkan tekanan perubahan iklim terhadap kemampuan makhluk hidup beradaptasi dengan lingkungannya.
“Fenomena suhu ekstrem yang meningkat di gurun pasir, sampai-sampai bahkan unta pun tidak mampu bertahan, benar-benar menunjukkan adanya krisis iklim yang sangat serius,” ujar Ronny, dikutip Sabtu (22/8/2026).
Ronny menyebutkan penelitian di Somalia menunjukkan sekitar 73 persen unta mati di wilayah Sool. Sementara di Kenya, kematian unta disebut meningkat 15 persen dalam dua tahun terakhir akibat hipertermia.
“Kondisi tersebut berkaitan dengan kemampuan fisiologis unta dalam mengatur suhu tubuh yang mulai terbatas ketika suhu lingkungan semakin ekstrem,” ucapnya.
Unta memiliki mekanisme khusus yang memungkinkan suhu tubuhnya berubah dari sekitar 34 derajat Celsius pada malam hari menjadi sekitar 41 derajat Celsius pada siang hari. Kemampuan tersebut membuat unta dapat menghemat air karena tidak harus banyak berkeringat.
Namun, ketika suhu lingkungan melewati 45 derajat Celsius, mekanisme tersebut mulai kurang efektif. Unta akan lebih banyak berkeringat sehingga kehilangan cairan dan mengalami tekanan panas.
“Pada suhu ekstrem di atas 50 derajat Celsius, bahkan unta yang sehat dapat mengalami hipertermia serius dalam beberapa jam jika tidak memiliki akses terhadap air atau tempat perlindungan,” kata Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University tersebut.
Kondisi itu dapat menyebabkan dehidrasi berat, kerusakan ginjal, gangguan metabolisme, hingga kegagalan organ.
Baca juga: Indonesia Kembali Ekspor 1.928 Monyet Ekor Panjang, Pakar Soroti Ancaman Kepunahan
Ronny menjelaskan, peningkatan suhu ekstrem merupakan salah satu dampak perubahan iklim global yang dipicu meningkatnya emisi gas rumah kaca. Gelombang panas dengan suhu siang hari mencapai 50–55 derajat Celsius membuat mekanisme pendinginan tubuh unta semakin sulit bekerja secara efektif.
Ancaman tersebut diperparah kekeringan yang menyebabkan sumber air mengering dan vegetasi gurun berkurang. Akibatnya, unta tidak hanya kesulitan mendapatkan air, tetapi juga kehilangan sumber makanan.
“Dampaknya turut dirasakan masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada unta untuk mendapatkan susu, daging, hingga sebagai alat transportasi,” kata Ronny.
Di Ethiopia, peternak di wilayah Afar bahkan melaporkan kehilangan delapan anak unta dalam sebulan akibat suhu ekstrem.
Ronny mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya mengubah lingkungan, tetapi juga mengancam kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada ekosistem gurun.
“Jika unta, simbol kekuatan gurun, tidak lagi mampu bertahan, masyarakat gurun seperti suku Badui di Sahara dan komunitas Bedouin di Timur Tengah tentunya akan menghadapi tantangan besar dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka,” ungkapnya.
Menurut Ronny, masyarakat gurun perlu melakukan berbagai bentuk adaptasi, antara lain melalui pengelolaan sumber air, penggunaan tanaman yang lebih tahan terhadap panas, hingga kemungkinan perpindahan ke wilayah yang lebih mendukung kehidupan.
“Ketika makhluk hidup seperti unta pun mulai kesulitan bertahan di habitatnya sendiri, tekanan terhadap ekosistem gurun dan kehidupan masyarakat yang bergantung padanya semakin nyata,” pungkas Ronny.



