Selasa, Agustus 11, 2026
No Result
View All Result
Narata
  • Home
  • News
  • Yang Luput
  • Komunitas
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Advertorial
  • Home
  • News
  • Yang Luput
  • Komunitas
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Advertorial
No Result
View All Result
Narata
No Result
View All Result

Populasi Orang Utan Sumatra Turun 19,5 Persen, Peneliti Sebut Darurat Konservasi

by Redaksi
Agustus 11, 2026
in Lingkungan
Keterangan: Orang utan Sumatra yang dikurung dalam kandang ayam di Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh. (Foto: YOSL-OIC)

Keterangan: Orang utan Sumatra yang dikurung dalam kandang ayam di Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh. (Foto: YOSL-OIC)


Narata.co
 — Populasi orang utan Sumatra (Pongo abelii) terus mengalami penurunan dan kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Peneliti IPB University dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Dr Dede Aulia Rahman, menyebut kondisi tersebut harus diperlakukan sebagai keadaan darurat konservasi.

Berdasarkan survei terbaru pada 2021–2023, populasi orang utan Sumatra diperkirakan tersisa sekitar 11.694 individu. Jumlah itu turun dibandingkan estimasi sekitar 13.846 individu pada 2011.

Dengan metode dan wilayah pengamatan yang sebanding, penurunan populasi tersebut mencapai sekitar 19,5 persen dalam 12 tahun atau rata-rata 1,8 persen per tahun.

“Angka ini sangat serius karena orang utan bukan satwa yang mampu memulihkan populasinya dengan cepat,” tegas Dede, Selasa (11/8/2026). 

Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) masih menjadi pusat populasi terbesar orang utan Sumatra. Sekitar 84 persen populasi spesies tersebut diperkirakan berada di kawasan itu.

Menurut Dede, kondisi tersebut membuat keberlanjutan KEL menjadi faktor penting bagi masa depan orang utan Sumatra.

Sementara itu, kondisi orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) tak kalah mengkhawatirkan. Populasi spesies tersebut diperkirakan hanya tersisa sekitar 716 individu yang tersebar dalam tiga metapopulasi di Ekosistem Batang Toru.

Dede mengatakan kehilangan habitat masih menjadi ancaman utama terhadap kelangsungan hidup orang utan. Berdasarkan penelitian, sekitar 76 persen variasi perubahan populasi antar-metapopulasi dipengaruhi oleh hilangnya hutan.

Sepanjang 2011–2023, sekitar 94.399 hektare hutan di wilayah sebaran orang utan disebut hilang akibat berbagai aktivitas, mulai dari ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, pertambangan hingga perambahan ilegal.

Baca juga: Empat Orang Utan Sumatra Hasil Rehabilitasi Bakal Dilepasliarkan ke Jambi

Namun, menurut Dede, penurunan populasi orang utan tidak bisa hanya dikaitkan dengan kehilangan habitat.

Pembunuhan akibat konflik manusia dan orang utan, perburuan, perdagangan ilegal, serta fragmentasi habitat juga memberikan tekanan besar terhadap populasi satwa tersebut.

“Karena itu, menurut saya, tidak tepat jika kita mempertentangkan kehilangan habitat dengan pembunuhan atau konflik seolah-olah keduanya merupakan ancaman yang terpisah. Keduanya saling memperkuat,” katanya.

Dede menjelaskan kehilangan dan fragmentasi habitat dapat mendorong orang utan masuk ke kawasan perkebunan maupun permukiman. Kondisi itu kemudian meningkatkan potensi konflik, penangkapan, hingga pembunuhan orang utan.

Persoalan menjadi semakin serius karena orang utan memiliki tingkat reproduksi yang sangat lambat. Orang utan betina umumnya hanya melahirkan satu anak dengan jarak antarkelahiran sekitar tujuh hingga sembilan tahun.

Karakteristik tersebut membuat populasi orang utan membutuhkan waktu panjang untuk pulih ketika kehilangan individu akibat kematian maupun ketika habitatnya menyusut.

“Apabila kehilangan habitat, fragmentasi hutan, dan kematian akibat aktivitas manusia terus berlangsung, risiko kepunahan lokal akan semakin besar, terutama pada metapopulasi yang berukuran kecil dan populasi orang utan Tapanuli,” jelas Dede. 

Karena itu, upaya konservasi dinilai harus dilakukan secara terpadu. Langkah yang diperlukan antara lain menghentikan kehilangan habitat penting, menjaga dan memulihkan koridor ekologis, menekan kematian orang utan akibat aktivitas manusia, serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan lembaga konservasi.

“Dengan langkah tersebut, peluang mempertahankan populasi orang utan Sumatra masih terbuka,” pungkas Dede.

Tags: Keanekaragaman HayatiKonservasiOrang UtanOrang Utan Tapanulisatwa endemikSumatra
Redaksi

Redaksi

Next Post
Keterangan: Kawanan monyet ekor panjang. (Foto: Aan/narata)

Indonesia Kembali Ekspor 1.928 Monyet Ekor Panjang, Pakar Soroti Ancaman Kepunahan

Recommended

Keterangan foto: Dua orang perempuan sedang berjalan menuju kebun. (Sumber foto: Wafdaazyak via Unsplash)

Hari Kanker Sedunia, Komnas Perempuan Dorong Akses Deteksi Dini yang Setara Berperspektif Gender

6 bulan ago
924699d5 9061 4730 9db8 4f8818446107

Keren, Formasi Drone Karya Anak Bangsa Jadi Daya Tarik Puncak Karnaval HUT ke-80 Kemerdekaan RI

12 bulan ago

Popular News

    • Home
    • Kebijakan Privasi
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Kontak Kami
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami

    Copyright © 2025. Narata.co. All rights reserved.

    No Result
    View All Result
    • Home
    • News
    • Komunitas
    • Lingkungan
    • Yang Luput
    • Olahraga
    • Advertorial

    Copyright © 2025. Narata.co. All rights reserved.

    Are you sure want to unlock this post?
    Unlock left : 0
    Are you sure want to cancel subscription?